24 Oktober 2014

"PANGAN SEHAT, KELUARGA SEHAT"


Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) dimulai sejak Food and Agriculture Organization (FAO) menetapkan hari pangan sedunia melalui resulusi PBB dalam konferensi FAO tahun 1979 di Roma, Italia. Sejak tahun 1981, seluruh Negara anggota FAO, termasuk Indonesia memperingati HPS secara Nasional pada setiap tanggal 16 Oktober, bertepatan dengan hari terbentuknya FAO. Dan gereja Katolik di Indonesia sebagai bagian warga masyarakat Indonesia juga ikut ambil bagian berperan aktif dalam memperingati HPS sebagai gerakan moral.
OMK dan Remaja dalam seminar
Gerakan HPS Gereja Katolik Indonesia menetapkan suatu tema dalam periode 2013 sampai 2015, yaitu “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat bagi Semua”. Tahun 2013 gerakan HPS bertemakan “Mencintai dan Merawat Bumi”. Mencintai dan merawat bumi merupakan ungkapan dan perwujudan syukur manusia atas kehidupan yang telah disediakan Allah bagi hidup manusia (bdk. Kej.2, 15-17). Bumi sebagai “rahim kehidupan” akan memberikan hidup kepada manusia kalau manusia menghidupi nilai keadilan cinta kasih kepada bumi. Semua manusia mempunyai hak yang sama untuk dapat menikmati dan mendapatkan sumberpenghidupan yang pantas dari rahim bumi, terlebih bahan pangan yang menjadi kebutuhan dasar setiap hidup manusia.
Aksi menanam bibit oleh kelompok tani, Sikakap
Tahun 2014 gerakan HPS bertemakan “Pangan Sehat Keluarga Sehat”, bahwa kemajuan ilmu dan teknologi begitu pesat dengan membawa dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya, mampu meningkatkan kwalitas maupun kuantitas produktifitas pangan, guna memenuhi kebutuhan pangan manusia. Namun negatifnya, bagi kesehatan manusia dengan menggunakan bahan zat adiktif pada pangan untuk meningkatkan kualitas pangan manusia, menambah rasa nikmat dan membuat daya tarik, dapat memantapkan kesegaran pangan tersebut. Padahal zat ini bersifat racun pada tubuh manusia. Pada bahan segar hasil pertanian, sering kali ditemukan indikasi system budidaya yang sangat tidak aman bagi konsumen, yaitu dengan diaplikasikannya berbagai pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan, dan pupuk kimia  yang kemudian berdampak meninggalkan residu pada hasil pertanian.


Pemenang lomba mewarnai tingkat PAUD
Komisi.PSE-Caritas Keuskupan Padang setiap tahunnya telah mengadakan program HPS secara bersama dengan umat diwilayah Keuskupan Padang. K.PSE-Caritas Keuskupan Padang berusaha untuk memotivasi dan memfasilitasi agar HPS tetap dapat terselenggara dengan baik di sekolah-sekolah, di paroki-paroki. Kegiatan yang dilakukan berupa; Seminar tentang pangan yang sehat sehingga menjadikan keluarga sehat, lalu ada pameran hasil pertanian dan pengolahan makanan. Kegiatan diadakan untuk para pengurus rayon di 3 paroki serta OMK dan PMKRI di Kota Padang. Panitia HPS Keuskupan Padang juga akan mendukung kegiatan dari panitia lokal karena tahun ini puncak perayaan HPS diadakan di Paroki Santa Maria Assumpta di Sikakap - Mentawai.


Berbagai kegiatan yang paling diminati masyarakat, khususnya di Sikakap yaitu keterampilan menjahit dari bahan bekas dan demo masak dengan bentuk pangan bergizi untuk kaum perempuan, dan lomba menanam bibit yang baik dan benar untuk kelompok tani bagi kaum laki-laki. Kegiatan lainnya juga dilaksanakan untuk anak-anak dan remaja, seperti lomba mewarnai, membuat puisi tentang alam, dan penyuluhan tentang bahaya zat pengawet pada jajanan atau makanan ringan. Tentunya kegiatan ini harus melingkupi seluruh aspek manusia, dari ekonomi, kesehatan bahkan sosial masyarakat.
Pastor Matheus, Pr. memberkatan bibit pada misa syukur HPS


Kita mesti mencintai kehidupan kita dengan menghindari pangan yang tidak sehat bagi tubuh, dengan berusaha menghindari mengkonsumsi pangan yang tercemar dari bahan adiktif karena membahayakan kesehatan dan kehidupan manusia. Usaha itu dapat dilakukan dengan memproduksi pangan sehat pola organik dengan menghindari sekecil mungkin penggunaan bahan-bahan adiktif berbahaya. Hal ini harus dimulai dari masyarakat yang paling kecil, yaitu keluarga dengan arah gerakan keanekaragaman pangan lokal sebagai sumber pangan sehat bagi keluarga dan gerakan konsumen cerdas.   

01 Oktober 2014

YUK MEMASAK DAN MENJAHIT!!!


   Gereja tiada henti menyediakan wadah untuk mengembangkan kehidupan umat gerejanya. Ekonomi dan sosial tetap diperhatikan agar siklus kehidupan dapat berjalan dengan baik. Masyarakat yang dianggap hanya sebagai objek, kini harus bisa menjadi subjek agar tidak hanyut dalam era globalisasi. Hal yang dianggap remeh dan sepele dimata masyarakat, pada dasarnya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, gereja melalui Komisi PSE membuka pelatihan menjahit dan memasak untuk umat gerejanya.
  Terkesan kurang menarik memang, tapi tanpa kita sadari, kedua pelatihan ini bukanlah skill yang dimiliki setiap orang, khususnya perempuan. Kenapa khusus perempuan? Karena Keuskupan Padang merasa terpanggil untuk memberdayakan kaum perempuan dalam meningkatkan potensi kaum perempuan dan menyokong ekonomi keluarga. Dapat dibayangkan, jika seorang istri atau ibu dalam rumah tangga tidak bisa memasak, maka ekonomi keluarga belum tentu dapat dikendalikan dan pastinya tidak ekonomis. Perempuan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi sebagai sarana mencapai kehidupan harmonis, bahagia dan sejahtera. Kemandirian perempuan dalam sektor ekonomi menumbuhkan kepaercayaan diri sebagai ciptaan Tuhan yang setara dengan laki-laki. Dengan kata lain, perempuan juga membantu meningkatkan pendapatan keluarga untuk mencapai kesejahteraan dan ekonomi mandiri bagi keluarga. 
Para peserta mulai menggunakan mesin jahit
   Pelatihan menjahit dan memasak tidak dilakukan pada waktu yang sama. Pada tanggal 7 Juli 2014 kursus menjahit dimulai.  Peserta hanya berasal dari tiga paroki di kota Padang saja, yaitu masing-masing dari paroki Santa Maria Tirtonadi, paroki Santa Theresia Katedral dan paroki Santo Fransiskus Asisi. Peserta kursus ini berjumlah 16 orang  yang terdiri dari ibu-ibu dan orang muda. Jumlah peserta dibatasi agar pelatihan berjalan lancar dan maksimal.
Kursus dimulai dengan latihan dasar menjahit, kemudian dilanjutkan dengan menjahit pakaian yang sederhana, misalnya baju dan celana tidur. Tetapi pada tahap awal dan sebagai bahan ujian, para peserta diajari untuk membuat pakaian untuk anak perempuan.
Hasil Jahitan peserta
  Selama proses berlangsung, beberapa peserta mundur dan hingga akhir kegiatan hanya bertahan 11 orang. Setelah 11 kali pertemuan, penyelenggara dan instruktur mengadakan ujian tertulis untuk para peserta. Ujian diadakan guna menguji kemampuan dasar teori peserta agar dapat mempraktekkannya kembali di rumah. Tepat tanggal 21 Juli 2014, kegiatan ini berakhir dan berjalan dengan lancar. Ujian yang telah dilakukan menghasilkan 3 orang peserta terbaik, dan tentunya mendapatkan penghargaan berupa bingkisan. 

Peserta mempraktekkan cara membuat garbin tapai
Tanggal 22 Juli 2014 kegiatan kursus memasak dilanjutkan. Kegiatan ini juga melibatkan ibu-ibu dan orang muda dari 3 paroki di kota Padang. Total peserta yang mengikuti kursus ini lebih banyak dibanding kursus menjahit yang bertotal 20 orang. Tetapi tidak berbeda dengan kursus sebelumnya, pada saat proses berlangsung beberapa orang peserta mundur hingga akhirnya hanya 13 orang yang bertahan hingga akhir. Kursus dimulai dari memasak makanan yang mudah hingga yang lumayan rumit. Dimulai dari masakan rumah hingga masakan yang bisa dijadikan mata pencarian. Para peserta tidak hanya melihat dan mendengarkan instruktur, tetapi juga ikut dalam proses penyediaan bahan, pengolahan hingga memasak. 
Makanan ringan sehat dari bahan utama ubi
    Memasak ternyata sangat menyenangkan, ungkap para peserta. Hal ini dikarenakan banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui peserta, justru kini menjadi hal yang dirasa mudah untuk dikerjakan. Bukan hanya sekedar memasak, tetapi juga diajari bagaimana mengolah bahan makanan seekonomis dan efisien mungkin. Tepat pada tanggal 26 Agustus 2014, kemampuan peserta turut diuji dan hasilnya ditemukan 3 orang peserta terbaik yang berhak memperoleh penghargaan.
   
Foto bersama peserta dengan Ketua Komisi PSE Caritas
 Para peserta mengakui kegiatan ini sangat berguna dan bermanfaat. Selain itu juga menambah ilmu serta kreatifitas kaum perempuan untuk memberdayakan kemampuan yang ada sebagai jalan untuk meningtkatkan ekonomi keluarga. Ketua Komisi PSE Caritas Keuskupan Padang, Pastor Alexius Sudarmanto, Pr, mengungkapkan rasa syukur turut senang karena pelatihan berjalan dengan baik dan lancar. Beliau juga menuturkan, agar ilmu ini juga dapat diilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing. 






20 Januari 2014

KEGIATAN PELATIHAN GO GREEN / HANDYCRAFT



Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Wanita Katolik Republik Indonesia Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Barat & Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi – Caritas Keuskupan Padang  dan Susteran St. Marta Pasaman. Kegiatan  diberikan  kepada  anggota Wanita Katolik Republik Indonesia  baik  itu utusan dari cabang maupun ranting yang berada di Kota Padang. Jumlah semua yang hadir ketika pelatihan Go Green/Handycraft sejumlah  23 orang. Kegiatan yang dibuat adalah  berupa  tas, alas meja  dan cocarde dari bahan plastik bekas pembungkus minyak goreng seperti sari murni, bimoli, sunligt, molto dsb.

07 Januari 2014

LOKAKARYA TALANG MAMAK, KELOMPOK TANI MENATAP MASA DEPAN



Dimoderatori oleh Pak K. Manalu untuk membuka kegiatan lokakarya,P. Juven mengawali dengan doa pembukaan. Kata sambutan pembukaan oleh pastor paroki diwakili P. Juven Saragih, sebagai koordinator pengembangan sosial ekonomi paroki. Harapan dari pearoki bahwa stasi Siambul, Siamang,Matunggau, Tualang agar dapat meniggkatkan kualitas kehidupan ekonominya, namun tetap mengdapankan kehidupan social terutama adat. Karena tingkat pengaruh adat pada daerah tersebut sudah rendah.

FORUM AKSI TANGGAP BENCANA (FATAB) SUMBAR DI GUNUNG SINABUNG, KAB. TANAH KARO


Dalam manajemen penanggulangan bencana tidak terlepas dari terbangunnya komunikasi dan terbentuknya sebuah jaringan dalam kelembagaan yang terkonsentrasi pada upaya pengurangan risiko bencana ataupun bergerak pada misi-misi kemanusiaan. Hal ini di tunjukkan melalui adanya komunikasi dan koordinasi sehubungan dengan terjadinya Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo. Informasi didapatkan melalui data assesment (SITREP) yang diberikan oleh jaringan Tim LEARN yang ada di Sumatra Utara. Data SITREP tersebut kemudian menjadi bahan acuan untuk Forum Aksi Tanggap Bencana (FATAB) Sumatra Barat sebagai keluarga LEARN yang ada di Sumatra Barat untuk melakukan aksi penggalangan bantuan untuk para korban yang berada di titik pengungsian sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas bersama.

27 September 2013

SURAT GEMBALA HARI PANGAN SEDUNIA 2013



“MAKIN BERIMAN, MAKIN BERSAUDARA,
MAKIN BERBELA RASA MELALUI PANGAN SEHAT”


(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada
Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013)
 


Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
1. Setiap tanggal 16 Oktober Gereja Katolik ikut memperingati Hari Pangan Sedunia sebagai wujud keterlibatan Gereja di tengah kecemasan dan keprihatinan dunia ini. Sehubungan dengan peringatan itu, baiklah kita merenungkan beberapa hal.

Gerakan HPS 2013 Gereja Katolik Indonesia



“MENCINTAI DAN MERAWAT BUMI”

Pengantar
“ … Engkau memperkenankan kami hidup di bumi Indonesia, di tengah pulau-pulau dan lautan biru, di antara gunung-gunung dan dataran subur, di negeri yang kaya raya akan sumber-sumber alam … untuk mengolah sawah dan ladang, mengelola alam tanpa merusak lingkungan, memanfaatkan lautan yang kaya, membangun kota dan desa, serta menyiapkan hari depan yang lebih adil dan makmur, aman dan sentosa …”. Kutipan Doa Syukur Agung ini mengajak umat beriman untuk bersyukur atas bumi dan segala isinya yang disediakan Allah bagi kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia dan keberlangsungan keutuhan ciptaan.
Bumi dan segala isinya merupakan hasil karya Allah dan sekaligus tempat Allah bekerja. Allah yang menyelenggarakan kehidupan di alam semesta ini dan tidak ada yang luput dari perhatian-Nya. Bumi menyediakan segala yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya. Bahkan harus diakui, kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada bumi. Bumi memelihara kehidupan manusia. Oleh karena itu, Allah berkehendak supaya manusia ikut ambil bagian dalam mencintai dan merawat bumi dengan segala isinya. Mencintai dan merawat bumi menjadi ungkapan dan perwujudan syukur manusia atas kehidupan yang telah disediakan Allah bagi hidup manusia (bdk. Kej 2, 15-17). Jadi, siapakah manusia berani menghancurkannya ?